Dead inside – Time to wipe tears away

Tidak terasa sebentar lagi sudah akhir tahun. Sepanjang tahun 2015 ini merupakan tahun yang berat. Bahkan boleh dibilang tahun paling gelap dalam hidup saya.

Tahun ini dibuka dengan kejadian yang menghantam dan meremukkan jiwa. Seakan seluruh persendian lepas. Ibarat pertandingan tinju, begitu bel ronde pertama dimulai saya sudah babak belur dihajar oleh Mike Tyson. Dan KO.

Tanggal 2 Januari 2015, adik bungsu saya meninggal dunia karena sakit, setelah dirawat lebih dari 1 bulan di rumah sakit baik di dalam negeri maupun di negara tetangga. Kejadian ini mempengaruhi seluruh anggota keluarga kami.

Buat saya pribadi, seakan sebagian dari diri saya hilang. Dan efeknya sungguh luar biasa. Sudah 11 bulan ini setiap malam saya tidak bisa tidur sebelum jam 4 pagi. Bukan sengaja begadang, tapi setiap menutup mata, selalu terbayang hari-hari dimana saya menemani adik saya yang sakit hingga ajal menjemputnya.

Setiap pulang ke kos, terbayang adik saya yang biasanya mampir dulu ke kamar setelah kami pulang kerja. Setiap berjalan ke halte busway dekat kos, terbayang juga kami berdua berangkat bareng. Begitu juga saat jalan kaki dari halte ke kos. Semua jelas tergambar layaknya sedang menonton film bioskop.

Saya menyadari emosi juga menjadi tidak stabil. Sering meledak-ledak lebih cepat dari biasanya. Di situasi normal mungkin kejadian-kejadian sepele tidak akan mengganggu saya sama sekali. Tapi sejak adik saya meninggal, hal-hal kecil bisa lebih cepat memicu naiknya darah ke ubun-ubun.

Tapi walau begitu, sayangnya (atau untungnya?) saya tetap tidak bisa menumpahkan secara verbal. Dan semua hal-hal yang mengganggu, baik yang dilakukan orang terdekat ataupun orang lain hanya tersimpan di pikiran. Mungkin itu salah dua sebab kenapa saya jadi susah tidur.

Tahun ini juga banyak tantangan lain. Entah ini berkaitan atau tidak, usaha yang saya jalankan juga tidak berkembang maksimal. Bahkan boleh dibilang nyaris jatuh. Usaha-usaha orang lain tambah berkembang. Mereka menaikkan gaji karyawan berkali-kali, memberikan bonus, outing perusahaan, dll. Sedangkan usaha saya malah anjlok, bahkan kehilangan 1 partner terbaik yaitu adik saya. Banyak hal lain terjadi beruntun bagaikan efek domino.

Ini sekali lagi banyak mempengaruhi kadar emosi jiwa. Dan tambah tidak bisa tidurlah saya.

Tapi beruntunglah saya masih memiliki kebiasaan memandang dari sisi positif. Tidak sedikit juga kejadian-kejadian yang patut disyukuri. Belum sebanding dengan hal-hal buruk yang terjadi, tapi tetap harus bersyukur dalam segala hal.

Semua hal yang tersimpan, baik positif dan negatif, mungkin sudah memenuhi otak saya. Dan mungkin kapasitasnya sudah penuh, sampai mengganggu hobi tidur saya. Makanya saya mulai hari ini memaksakan diri untuk menulis lagi. Menumpahkan semua, atau sebagian besar yang ada di pikiran dan hati supaya tersedia lagi ruang kosong di otak.

Mungkin saya bisa kembali stabil seperti dulu, karena katanya menulis bisa mengurangi stres lho.

Mungkin setelah itu saya bisa jadi tidur di jam normal seperti orang lain. Nggak lucu kalau saya tau penyebab sakit adik saya karena terlalu sering begadang, tapi saya melakukan hal yang sama juga.

Jadi, mari kita buktikan.

Also read...

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *